Apr 16
Kelaparan dan Kemiskinan, Satu Saudara?
Kelaparan mungkin menjadi endemi di berbagai daerah dan melanda sebagian besar penduduk yang tentunya berada di kawasan negara berkembang. Okelah, sebut saja Indonesia.
Saia tidak tahu mengapa hal ini terjadi, yang pasti, negara berkembang identik dengan berkembangnya segala aspek kehidupan. Ekonomi yang berkembang, Teknologi yang berkembang dan semuanya serba berkembang. Entah kapan majunya, karena di INDONESIA sendiri, julukan sebagai “Negara Berkembang” sudah hampir seumuran dengan merdekanya negara tersebut. (*menghayati pusi MANJO -Malu Aku Jadi Orang Indonesia- karya Taufik ismail*)
‘PERKEMBANGAN’ yang tak kunjung menemukan ujung dan berubah total menjadi ‘MAJU’ menuntut masyarakat untuk berfikir kreatif dan cerdas, atau menemukan kebuntuan yang sama seperti nasib negara itu sendiri. Hal ini pula yang menyeret masyarakat ke dalam jurang kemiskinan dan menyebabkan berbagai hal-hal yang tidak manusiawi terjadi pada mereka.
Yang telah banyak disorot akhir-akhir ini adalah tentang Kelaparan dan Gizi buruk. Yang saia tau, rank nomer wahid versi Mbah Google yang membahas mengenai hal ini secara kontinyu adalah blog milik Pak Gempur, guru TIK saia tercintah (*Cieeeeh, Bu Gempur, mohon maaf..*).
Sejak awal, saia memang tergolong cuek dan tidak uptodae. Berkat beliau, sedikit banyak saia termotivasi untuk ikut memperhatikan issue nasional yang memakan banyak korban jiwa tersebut.
Berikut ini fakta mengenai Kelaparan versi Lonweb yang berhasil saia temukan (*halah..berkat Mbah Google seperti biasa*)
1. Tiap hari kurang-lebih 24.000 orang meninggal karena lapar atau hal-hal yang berkenaan dengan kelaparan. Angka ini telah menurun kalau dibandingkan dengan sepuluh tahun yang lalu yang berkisar sekitar 35.000 dan 45.000 untuk duapuluh tahun yang lalu. Tiga perempat dari angka-angka kematian ini adalah anak-anak berumur dibawah lima tahun
2. Kini, 10% dari anak-anak di negara berkembang meninggal sebelum mereka berumur lima tahun. Angka ini menurun 28% dari lima puluh tahun yang lalu.
3. Kelaparan dan perang menyebabkan hanya 10% kematian karena lapar, meskipun hal ini merupakan hal yang biasa kita dengar sehari-hari. Kebanyakan dari kematian karena lapar disebabkan oleh malnutrisi yang kronis akibat dari (keadaan bahwa) penderita tidak dapat mendapatkan makanan yang cukup. Hal ini disebabkan oleh kemiskinan yang sangat parah.
4. Disamping kematian, malnutrisi juga menyebabkan kerusakan indra penglihatan, kurang semangat, kelambatan pertumbuhan badan dan meningkatnya kerawanan terhadap penyakit. Penderita malnutrisi berat tidak berdaya untuk berfungsi melakukan kegiatan ringan sehari-hari.
5. . Diperkiran bahwa didunia ada kira-kira 800 juta penderita kelaparan dan malnutrisi, yaitu 100 kali lebih banyak dari yang meninggal karena kelaparan dan malnutrisi itu setiap tahunnya.
6. Pada hakekatnya, dibutuhkan hanya sedikit bahan dasar saja untuk memungkinkan si miskin berkesinambungan dalam memproduksi makanan. Termasuk dalam bahan dasar ini adalah bibit yang berkualitas tinggi, alat-alat yang sesuai dan kemudahan dalam mendapatkan air. Sekedar peningkatan dalam teknik pertanian dan cara penyimpanan makanan juga akan menolong.
7. Banyak pakar dalam bidang kelaparan percaya bahwa pada akhirnya jalan terbaik untuk mengurangi kelaparan adalah lewat pendidikan. Orang-orang yang berpendidikan adalah bibit yang terbaik dalam meningkatkan diri dari kemiskinan yang menjadi penyebab kelaparan.
Lalu bagaimana negara lain mengatasi masalah kelaparan seperti ini?

Badan-badan serta organisasi sosial juga turut membantu masalah maraknya fenomena Kelaparan dan Gizi buruk yang melanda di sebagian besar negara berkembang dan miskin. Organisasi-organisasi seperti Ending Child Hunger and Under Nutrition Initiative (ECHUI) memfokuskan bantuan untuk mengakhiri terjadinya kelaparan di kawasan Asia dan Afrika. Millenium Development Goals (MDGs) atau tujuan akhir dari program tersebut adalah mengurangi separuh penduduk yang kelaparan dan miskin pada tahun 2015.
PBB juga tak berpangku tangan saja, organisasi internasional tersebut juga mencari terobosan-terobosan bagaimana mengatasi masalah kelaparan dan kemiskinan yang melanda negara-negara berkembang. Diantaranya yakni menganjurkan negara-negara tersebut lebih konsepsional dan menggunakan data ilmiah dalam menyusun kebijakan dan program gizi.
Political Will yang ada dalam suatu negara juga harus menjurus pada pengurangan masalah kelaparan dan gizi buruk yang melanda negara tersebut. Pendanaan menjadi konsen terpenting dalam mengatasi hal tersebut secara signifikan. konsep pembangunan ekonomi secara jangka panjang dan pendek serta memfokuskan kucuran dana bantuan maupun subsidi pusat terhadap daerah-daerah miskin juga merupakan suatu tanggung jawab pemerintah dalam mengupayakan teratasinya masalah kemiskinan dan kelaparan.
Sumber rujukan:
- Gizi.net
- Lonweb
- Poto dari sini
det
orang kelaparan itu karena tidak makan
orang tidak makan itu karena tidak memiliki makanan
tidak memiliki makanan itu karena tidak punya uang
tidak punya uang itu karena tidak bekerja
tidak bekerja itu karena tidak punya skill
tidak punya skill itu karena tidak belajar
tidak belajar karena biayanya mahal…
kesimpulan sementara: orang kelaparan karena biaya pendidikan mahal!
April 16th, 2008 at 10:29 am
shei
@ Det:
Benar mas…kapan ya Indonesia menjadi ’surga’ yang penduduknya bisa bangga dan bahagia tinggal di neagra ini?
April 16th, 2008 at 5:28 pm
kakak
Tikus mati di lumbung padi
gitu kan dek istilahnya?
May 1st, 2008 at 9:57 pm
shei
Yap, bener banget! TApi saia ndak mau jadi tikusnya yaah, Hohoho…
November 17th, 2008 at 2:26 pm