Oct 28
Manifestasi Perjuangan Pemuda
Bunyi dari Inspirasi Perjuangan itu adalah:
- PERTAMA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia.
- KEDOEA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia.
- KETIGA. Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia
Sumpah pemuda adalah inspirasi dari tegaknya tongkat Nasionalisme kaum muda di Indonesia. Perjuangan mereka menjadi gerakan yang diperhitungkan dalam setiap sistem pmerintahan, bahkan sebelum merdeka sekalipun. Generasi muda tidak mau bertindak sebagai benalu yang hanya menikmati jerih payah pejuang tanpa ikut andil dalam perjuangan itu sendiri. Nasionalisme, kata itulah yang akhirnya menyatukan mereka meski berasal dari suku yang berbeda, agama yang bearenaka ragam, dan terlahir dengan rasa kedaerahan yang masih kental. Semuanya tak menghalangi niatan pemuda Indonesia untuk bersatu demi pembangunan negeri tercinta. Ikrar suci yang dilaksanakan pada tanggal 28 Oktober 1928.itupun akhirnya menuai rasa cinta antaretnis dan antarsuku di Indonesia.
Kaum Muda= Mahasiswa
Istilah kaum muda lebih diidentikan kepada mahasiswa. Adalah pemilik Intelektual, agent of change, pemikir yang revolusioner dan masih banyak sebutan manis lainnya. Keidentikan makna kaum muda yang akhirnya disebut-sebut sebagai mahasiswa itu sendiri terjadi bukan karena omong kosong belaka. Periodisasi kesuksesan mahasiswa dalam memerangi kejahatan politik dan upaya mereka untuk senantiasa menegakkan makna nasionalisme tercatat dalam kitab kelam gerakan revolusioner mahasiswa, meski masih juga belum banyak yang tahu:
- Terbentuknya Boedi Oetomo (1908).
- Peran Mahasiswa dalam Proklamasi Kemerdekaan RI (1945).
- Peran Mahasiswa dalam Gerakan ‘66 (1966) (tumbangnya orde lama)
- Pergerakan mahasiswa tahun 1974 & 1978.
- Peran Mahasiswa dalam Pergerakan 1998 (tumbangnya orde baru)
- Pergerakan mahasiswa tahun 2001.
Banyak sejarah hitam yang memposisikan mahasiswa sebagai pelaku utama dan bahkan bisa disebut sebagai pahlawan pada kala itu. Namun sayang sekali, sampai detik inipun, tidak banyak yang paham berkat siapa Proklamasi Kemerdekaan R.I akhirnya dikumandangkan, keotoriteran Rezim Soeharto tumbang, dan Permainan politik lainnya digagalkan.
Kaum Muda!
Oleh karena itu, sejarah nasional seharusnya bisa diperbaharui dan disisipi oleh perjuangan kaum muda dalam mempertahankan nasionalisme di Indonesia.
Mahasiswa untuk Rakyat
Mahasiswa adalah perwujudan dari kaum intelek yang masih bersih, penuh idealisme dan tidak menyentuh ranah politis secara praktis. Label Agent of Change yang melekat dalam diri mahasiswa pun tidak bisa terlepas, mengingat mereka memiliki modal utama untuk bertindak; bingkai intelektualitas. Mahasiswa dibutuhkan, antara lain untuk ‘menginsyafkan’ rezim yang sedang berkuasa di segala era.
Selain itu, keberpihakan mahasiswa kepada rakyat juga sangat penting, mengingat nasib mereka pasti tidak akan jelas jika hanya diserahkan kepada pemerintah. Tengok saja masa keemasan Rezim Soeharto yang puas mempimpin berpuluh-puluh tahun dengan tangan besinya, tak banyak rakyat yang sadar bahwa mereka dimanfaatkan, tak banyak yang tahu harus berbuat apa. Disitulah peran mahasiswa dibutuhkan sebagai kontrol sosial akan segala sesuatu yang sedang terjadi di bumi pertiwi Indonesia.
Tantangan Kaum Muda
Hidup adalah perjuangan. Perjuangan tentu saja harus dipertahankan.
Andai saja mahasiswa dan eks-mahasiswa masih menganut prinsip tersebut. Pasti negri ini tidak akan bobrok seperti sekarang. Lihat saja para koruptor yang senaknya saja memangkas dana rakyat demi kesejahteraan pribadi, para politisi yang menghalalkan segala cara demi memperoleh kekuasaan tertinggi, dan tindakan amoral yang dilakukan petinggi-petinggi Indonesia lainnya. Tanggung jawab mereka sebagai eksekutor politik yang harusnya membawa kesejahteraan dan peningkatan taraf hidup rakyat malah semakin menghancurkan reputasi bangsa, baik di dalam maupun di luar negri.
Apakah mereka tidak pernah kuliah? Tidak pernah mencecap predikat sebagai mahasiswa?
Pertanyaan yang sederhana namun bisa menohok senubari apabila salah satu dari penjahat kerah putih itu dulunya adalah seorang aktivis. Setidaknya juga pernah mengikuti kegiatan akademik maupun organisasi dan diajarkan berbagai nilai dan norma.
Refleksi dari ‘perjuangan tiada akhir’ sepertinya mencapai batas akhir juga, apabila nantinya para aktivis yang kontra pemerintahan dan keberpihakanya kepada rakyat begitu kentara tiba-tiba mengenyam jabatan dan posisi yang nyata, baik secara prestis maupun finansial.
Masih ingatkah perjuangan mahasiswa pada era 60-an? Dimana Para aktivis yang kontra pemerintahan orde lama akhirnya diangkat menjadi anggota parlemen dan menanggalkan status mereka sebagai mahasiswa? Apa yang terjadi? Ternyata sama saja, bahkan lebih parah. Mereka memihak pemerintahan otoriter Soeharto dan akhirnya malah mengkhianati sanubari mereka. Idealisme yang mereka anut sebelum menduduki jabatan parlente itu pun akhirnya sia-sia saja karena hangus oleh keserakahan.
Maka yang harus dilakukan sekarang ini adalah Berubah. Tidak ada kata terlambat untuk memulai lagi perjuangan kaum muda di Indonesia. Tantangan adalah untuk dihadapi bukan disesali.
Perjuangan harus dimaknai secara dinamis dengan menganut nilai dan norma yang ada. Begitu banyak kasus yang memerlukan tindakan nyata dari mahasiswa demi rakyat, demi tanah air. Karena intervensi tidak hanya datang dari pemerintah, dari dalam negri itu sendiri, namun pihak luar negri kadang kala juga membuat bangsa ini tidak karuan.
Demonstrasi mungkin bukan rujukan dari perjuangan yang ada, apalagi jika demo itu diwarnai kekerasan dan pengrusakan. Hal ini malah memperburuk citra mahasiswa di mata rakyat. Lakukanlah perjuangan yang menekankan pada konsep intelektualitas dan progresivitas mahasiswa. Tentu hal ini akan dapat menyelesaikan masalah tanpa merugikan pihak-pihak lain.
Sebaiknya pemerintah mempertimbangkan untuk mengikutsertakan mahasiswa dalam rapat parlemen karena rapat itu dibuat demi kepentingan rakyat. Bukan sebagai wadah kong kali kong para petinggi untuk mempermainkan situasi yang sedang berlangsung di Indonesia.
Perjuangan Dimulai Dari Diri Sendiri
Teori klasik yang efektif seperti: semuanya dimulai dari diri sendiri memang benar adanya, bagaimana bisa mengubah stereotip jika tidak berawal dari diri sendiri? Saat ini masih banyak mahasiswa yang hanya menyandang status tanpa makna, mahasiswa: seorang yang berangkat kuliah, mengerjakan tugas dan lulus tepat waktu. Namun kehidupan mahasiswa itu kosong tanpa arti. Maka, amatilah poin-poin berikut yang bisa menghidupkan jiwa mahasiswa dalam diri sehingga setiap mahasiswa pun bisa ikut berjuang demi bangsa Indonesia:
- Milikilah Prestasi Akademik:
Tidak dipungkiri bahwa mahasiswa telah berhasil menaklukkan pendidikan-pendidikan dasar dari TK, SD, SMP hingga SMA. Maka pengetahuan yang mereka dapat pasti lebih tinggi daripada bertahun-tahun yang lalu ketika masih duduk di bangku SD. Oleh sebab itu, mahasiswa harus bisa membuktikan bahwa mereka memang kaum intelek yang berprestasi, setidaknyalah milikilah IP (Indeks Prestasi) diatas rata-rata.
- Kembangkan Bakat dan Potensi:
Perjuangan artinya menjadi produktif. Kembangkan bakat, minat dan potensi sehingga kegiatan yang dilakukan tidak sia-sia. Bahkan, bisa membantu orang banyak. Misalnya jika hobi berkebun, maka mulai menanamlah, sebanyak-banyaknya sehingga daerah disekitar tempat tinggalmu menjadi hijau. Jika beruntung, orang-orang yang kagum akan hijaunya tempat tersebut juga akan mulai mempertimbangkan untuk menanami halaman mereka.
- Bertindaklah secara Logis dan Beradab:
Sekali lagi, seorang kaum intelek harus bertindak secara cerdas. Cerminan sikap seseorang merupakan tolak ukur tingkat kecerdasan yang dimiliki orang tersebut. Jika hal ini tidak diperhatikan, maka jangan disesalil apabila eksistensi mahasiswa di Indonesia hanya merepotkan saja tanpa memiliki pengaruh positif dalam perjuangan bangsa.
- Bergabunglah dalam Perjuangan:
Ikut andil dalam perjuangan tidak hanya dengan menjadi aktivis yang demo sana-sini. Menulis artikel yang membangkitkan rasa nasionalisme pun bisa disebut perjuangan. Melakukan hal lain yang positif dan menghasilkan perubahan juga perjuangan. Jangan mempersempit makna perjuangan, karena segala sesuatu bisa disebut perjuangan bila dilakukan secara tulus dan bermanfaat bagi orang lain.
- Berbagi:
Saling berbagi baik pengalaman, ilmu, dan lainnya juga bagian dari perjuangan. Hal ini akan menginspirasi orang lain bahkan diri sendiri dan tentu saja membangkitkan rasa nasionalisme. Mulailah berbagi hal yang positif demi pembangunan di Indonesia. Atau setidaknya demi penghidupan yang lebih baik.
Dengan Semangat Perjuangan,
Hari Sumpah Pemuda 281008
Shei
Tags: 28 Oktober, Argumen, Artikel, HAri Peringatan, Ide, Indonesia, Nasionalisme, PArmagz, Pemikiran, Sejarah, Sumpah Pemuda
arqu3fiq
Berjuang maju terus pantang mundur. Semangadh.
??????????
October 28th, 2008 at 7:29 pm
gemBel™
baguslah..
kalo semuwa itu bisa kamu penuhi!!
October 28th, 2008 at 7:44 pm
tu2t
setuju!!
yang paling penting.. mari kita bangun bangsa ini menjadi lebih baik laghee.. berantas korupsi.. dan BERTINDAK!!!
dengan penuh semangat…
-tu2t-
October 28th, 2008 at 8:28 pm
det
hidup adalah perbuatan!
October 29th, 2008 at 5:57 am
theodora
apa kamu tau nama sumpah pemuda udah di ganti ???lihat di blogku kalau nggak percaya…..
kok blokwalking ke blog aku cuma sekali2 sich….
October 29th, 2008 at 11:06 am
komdempel
sumpah pemudah? kayaknya sumpahnya dah banyak yg pudar he2
October 29th, 2008 at 2:07 pm
masDan
Agent Of Change .. Tinggal Nge-Change ke arah mana …Hehehe
Berjuang dari diri sendiri, dari hal kecil, dari sekarang ……
October 29th, 2008 at 3:35 pm
gi3
Berjuang harus memilki tekat dan tujuan yang Kuat
Tak mundur bila ada Rintangan
Tak Putus asa bila Terjatuh
Tak akan pernah Menyerah
Dan
Tak akan pernah berhenti Mengapai Mimpi
**Kabuor….**
October 30th, 2008 at 9:49 am
Suratno
Great article Seft! Syubbabuna al-yaum rijaaluna al-ghad (Pemuda jaman sekarang adalah pemimpin di masa yang akan datang). Hidoep (Soempah) Pemoeda!
Seft…lha endi liputan konser musicademia: terima kasih pemuda (twillite orchestra dkk). Koq urung ono? Konsere apik sih, cuman aku entuk kursi bagian belakang dari 3000-an penonton. Dadi rasane kurang puasss…. (www.suratno77.multiply.com)
October 30th, 2008 at 11:08 am
shei
@ arqu3fiq: iiyap

**

@ Gembel: InsyaALLAH
@ tu2t: Yap! harus dimulai dari generasi muda, yang tua, ditunggu aja “bancaan”nya
@ Det: Spammed!!
** ada yang lagi kampanye ternyata
@ theodora: haha, ada2 aja..
Iya iya, sante aja, ntar juga dikunjungi kok, prasaan udah deh n_n
@ komdempel: jadi, saatnya dibangkitin lagi doonk
@ masDan : sampeyan nge-change kemana looo??
@ gi3 : nyanyi sountrek GIE ya??
@ Suratno: Tengkyuuh paaak….
insyaALLAH, we will..
wuush, kahn udah baca artikelnya pak n_n
iya, saia pindah ke kursi media waktu itu ,
November 1st, 2008 at 11:58 am
eshape
Kalau semua pemuda/pemudi seperti ini, maka gak akan lama lagi Indonesia akan mencapai [lagi] jaman keemasannya.
Selamat Menemui Indoensia Emas 2020
November 8th, 2008 at 5:01 am