Dec 3
Koreksi untuk Kemajuan Bangsa
“Manusia Itu seperti pesawat yang punya sayap , kanan dan kiri. Keduanya harus seimbang. Yang kanan adalah Iptek, yang kiri adalah Imtaq (Iman-Taqwa). Jika salah satunya tidak dipegang, maka pesawat tersebut akan jatuh”
Begitulah kutipan dari seorang ahli pesawat terbang kebanggaan Indonesia, Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie dalam diskusi bertajuk “Apa yang Salah dengan Bangsa Kita?” di Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina, Jakarta, pada Jumat, 28 november 2008.
Mantan Presiden Indonesia di era reformasi itu menyampaikan pemikiran-pemikiran khas negarawan sejati dalam diskusi yang berlangsung pukul 10.00 WIB dengan semangat nasionalisme tinggi, tipikal tokoh yang memang mengalami sendiri fase-fase kengerian silih bergantinya kabinet yang berujung pada morat-maritnya bangsa. Chaos.
Eyang- sebutan yang disarankannya untuk kami sehingga terasa seperti famili sendiri memudahkan pengomunikasian dialog mengenai studi alot tentang bangsa Indonesia yang - entah mengapa- memiliki pesimistis nasional, terutama di era krisis global seperti ini.
Apa yang salah dari bangsa kita ini?
“Yang salah itu adalah pemahaman model yang tidak seharusnya diterapkan di tiap-tiap kepemimpinan,” argumen beliau membuka wawasan hadirin. Model yang disebutkannya adalah teori atau suatu hipotesis yang akhirnya dianalisa mengenai suatu kasus terntu sampai akhirnya ditemukan pendekatan-pendakatan utnuk memecahkannya.
“Model digunakan untuk merekayasa, pencarian pendekatan (solusi) menggunakan mathematical model akan menghasilkan seribu elemen sehingga pada akhirnya ditentukanlah dominasi untuk memecahlan suatu masalah. Hasil yang diperoleh kemudian perlu dikroscek dengan garis historis sebagai komparasi sehingga kita juga mendapatkan solusi yang efektif, artinya memang pernah berhasil dicoba di masa lalu,” terang beliau panjang lebar dengan mencontohkan kasus pemilu yang pernah dibuatkan modelnya ketika masa kepemimpinan rezim orde baru.
Dalam slide presentasi yang dibuatnya sendiri, beliau memberikan beberapa gambaran mengenai perbedaan model pada era ’45 dengan era sekarang.
“Pada model ’45 itu nasionalisme masih menjadi perekat utama, patriotisme terus dikembangkan, UUD ’45 dan Pancasila merupakan dasar NKRI, kekuasaan dunia adalah multipolar, SDM masih rendah, lalu jaringan atau informasi masih sangat terbatas,”
Beliau kemudian meneruskan pemaparannya,” Sedangkan pada model sekarang, nasionalisme tak lagi dipersoalkan, kepentingan masyarakat menjadi fokus perhatian, patriotisme tetap dipelihara dan dibutuhkan, UUD ’45 dan Pancasila merupakan dasar NKRI, kawasan unipolar menjadi multipolar lagi, dan yang paling penting, SDM lebih baik dari 63 tahun lalu namun tidak merata,”
Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie yang kala itu sedang berbatik cokelat muda dengan peci hitam juga mengemukakan pendapatnya mengenai pendekatan-pendekatan yang disusun demi terciptanya suatu bangsa yang lebih baik, selain bermain dengan model tentu saja.
“Kalau saya jadi Lurah, maka saya akan fokus dulu terhadap kelurahan yang saya pimpin daripada ngurusin kasus di Vietnam,” begitu jelasnya yang berarti pemerintah seyogyanya menjadi ‘pengurus’ kepentingan rakyatnya terlebih dahulu daripada sibuk gembar-gembor mengenai isu internasional, “Kecuali kita sudah terbukti bisa menyelesaikan kasus tingkat tinggi yang menjangkau nasional bahkan internasional loh, kalau tidak bisa, ya ndak usah neko-neko” lanjutnya merevisi.
Tokoh nasional yang berpendirian bahwa suatu hal hanya dapat diselesaikan dengan pendekatan saja, bukan dengan ilmu pengetahuan (eksak) itu menuturkan bahwa kolaborasi kaum muda sangat diperlukan demi terbentuknya bangsa yang kokoh. “ Seharusnya dalam suatu badan, terdapat kaum revolusioner yang didalamnya dapat melakukan sutu gerakan cepat dan tangkas serta diawasi oleh kaum konservatif yang dengan bijak membimbing mereka. Kolaborasi seperti ini sungguh efektif demi terciptanya suatu tatanan pemerintahan yang unggul.” Anies Baswedan, Ph. D menambahkan yang kemudian diikuti anggukan sepaham oleh kawan seperjuangan Nurcholis Madjid itu.
Presiden satu-satunya yang berhasil membawa nilai tukar rupiah terhadap dollar seharga Rp6500,00 tersebut dengan serius berpendapat bahwa masalah di Indonesia yang menyebabkan timbulnya tanda tanya besar seperti tajuk diskusi hari itu adalah distorsi informasi internasional yang sampai ke Indonesia. Pemerintah seharusnya rela mengorbankan kepentingan nasional demi kepentingan masyarakat (Plan, Counter trade, Offset) dan membuat perencanaan untuk menanggulangi kemiskinan, pengangguran dan pemerataan (segala aspek), serta konsen terhadap what is really happen in Indonesia.
“Saya dulu pernah diberi mandat untuk membeli 1 squadron pesawat F-16. Karena waktu itu keuangan negara sedang tidak bagus, maka saya berinisiatif untuk melakukan offset (exchange monetary into services). Jadi saya minta order untuk menutup anggaran pembelian pesawat dari produsen, namun, sebelumnya, saya harus lolos sertifikasi militer internasional terlebih dahulu untuk menguji kredibilitas. Setelah lulus sertifikasi, saya bersama anak Indonesia diberi order untuk membuat sayap pesawat F-16, sebanyak 600 buah,” kenangnya yang langsung disambut decak kagum para hadirin, “Dari sini kita bisa sadari bahwa bisnis tidak melulu soal uang, dengan offset seperti itu, maka kita tidak hanya untung dapat pesawat gratis- tapi juga melatih skill,” imbuhnya.
Kemudian, sesi tanya jawab dibuka, saking banyaknya hadirin yang memadati ruangan, sesi tersebut hanya dibatasi untuk empat orang persesi sampai waktu solat Jumat tiba, alokasi waktu sekitar 45 menit.
Dengan sabar- cerminan seorang Eyang sejati- Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie menjawab satu persatu pertanyaan secara terbuka, tidak terkesan menutup-nutupi informasi, semuanya dijawab secara gamblang.
Tepat pukul 12.00 WIB, diskusi hari itu berakhir, dengan acara seserahan cindera mata berbentuk diorama wayang Rama-Shinta, tipikal kenang-kenangan yang sering diberikan pada beberapa pembicara di Universitas Paramadina.
Setelah diskusi, wartawan tampak menyerbu beliau, ada juga hadirin yang meminta tanda tangan di bukunya masing-masing serta berfoto bersama, saya misalnya. Para wartawan juga “menodong” beliau untuk memberi pendapat mengenai kasus-kasus yang sedang hangat di Indonesia. Dalam acara tersebut, tampak pula Akbar Tanjung dan beberapa orang penting yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang pasti, Ny. B. J habibie juga turut menyertai suaminya.
Tak tertinggal, inti dari pesan Eyang pada cucunya yakni, menjadi bangsa yang unggul tidak harus melakukan rombak sistem sana-sini, yang pasti adalah koreksi dan koreksi, dimana sistem yang sedang berjalan jangan sampai terhenti, tapi dikoreksi, jadi langkah kedepan akan menjadi lebih baik daripada memulai dari nol lagi. (shei)
Tags: Habibie, Imtaq, Indonesia, Iptek, Jakarta, Jerman, Menristek, Paramadina, Pesawat, Presiden, Sains

aR_eRos
pertamaaXxx sek *hallah ndak penting
baca belakangan.
December 3rd, 2008 at 3:46 pm
Rystiono
Apa yang salah dengan bangsa ini?
Ndak jelas…orang-orangnya ndak jelas tujuannya…ahahahahahaha…
December 3rd, 2008 at 4:12 pm
aR_eRos
lantas, masih adakah calon-calon presiden yang akan membawa endonesa ke arah yang dinanti-nantikan, semoga.
December 3rd, 2008 at 4:25 pm
shei
@ Rystiono : Jadi????????
@ aR_eRos : Amiiiin……..
December 3rd, 2008 at 4:34 pm
dtxc
weks… habibi ketularan narsis kayak srintil kwakakakaka… ndak ada yang salah kok, karena yang salah sudah dipenjara! :mrgreen:
December 3rd, 2008 at 5:38 pm
boyin
mbaknya ini aktif bener ya..abis dari nonton slank sampe photo2an ama pak Habibie..heee
December 3rd, 2008 at 5:49 pm
vicky
Oh itu foto asli ya???? tak pikir itu cuma rekayasa aja…. hihihihi Narcis habisssss……
Yup kesimpulan yang baik… kenapa kok PR bisa down…. yang harus dilakukan adalah korek si dan korek si, sebelum merubah sistem sana siney…
December 3rd, 2008 at 6:54 pm
Manusiasuper
Yah, banyak memang tokoh hebat
ngomongdi Indonesia, sayangnya, yang jadi penentu kebijakan justru yang mencle-mencle…December 3rd, 2008 at 10:47 pm
shei
@ dtxc : Hehehe, iya doonk, eyang gw gitu loooh,


@ boyin: HEhe, tunggu foto saia dengan Angelina Sondakh, sama Meutya Hafid
@ vicky i: Yeeee…. enak aja, saia antirekayasa uey
iya tauk ah, Google mencla-mencele, padahal blog saia ndak ada ‘paid review’ nya loooh!!!
@ Manusiasuper : Beneeerr…
(-.-)zZZZZ
December 4th, 2008 at 7:39 am
aRuL
makanya pilih lagi lah dia jadi presiden Indonesia…
tau ngak shei, dia idola saya lho, dialah yang menyebabkan saya sampai terjurumus di dunia teknik ini.. hehehehe
December 4th, 2008 at 7:50 am
shei
aRuL : Waaah, ada yang ngaku euy!!!!
yaya, emang pak HAbibie itu pinternya nauzubillah, saia juga mengidolakan beliau
December 4th, 2008 at 8:19 am
Fenty
Waduh fotonya, sampe merebahkan kepala di bahu pak habibie … hahahahahaha ….
tapi setuju kalau orang yang satu ini pinter banget, yang namanya orang pinter Indonesia pasti maunya tinggal di luar, karena tau dengan tinggal di Indonesia gak akan pernah bisa berkembang *eh ini menurut orang2 Indonesia kaya, pinter, yang lebih nyaman tinggal di luar negeri* 
Omongannya serius, lagi males baca
December 4th, 2008 at 8:44 am
shei
@Fenty : HAhaha, maksudnya sampeyan ta mbak????
boleh..boleeh..
** P. S: itu namanya eyang-cucu sama narsisnya n_n **
December 4th, 2008 at 8:52 am
aR_eRos
hayuk neng sayah dukung kalo mau nyalonin jd presiden xixixi. oia kalo ndak repot link di blogroll di ganti ya
December 4th, 2008 at 9:04 am
angki
Potone iku rekayasa ik. Kok pak Hahbibi ndak noleh ke kamera lo???
December 4th, 2008 at 10:33 am
yopi
Itu bukan Pa habudi yang di republik mimpikan?? hehe..
December 4th, 2008 at 2:44 pm
gemBel™
manusia itu cenderung serakah,…
belum selesai ngurusin yang satu udah nyampurin urusan laen!.. yang belum tentu dia mampu akan apa yang akan di campuri itu, dan begitu mengetahui kalu tidak mampu, langsung ditinggal tanpa adanya koreksi terlebih dulu!…
*haisya ngomong opo to iki,….
December 5th, 2008 at 2:10 am
suwan
tetap semangat
December 5th, 2008 at 1:15 pm
Edi Psw
Benar yang dikatakan Pak Habibie. Banyak orang salah kaprah. Pintar tapi kalau tidak diimbangi dengan iman, bisa-bisa digunakan untuk ngebom orang lain. Hehehe…
December 5th, 2008 at 3:11 pm
ekkei
“Kalau saya jadi Lurah, maka saya akan fokus dulu terhadap kelurahan yang saya pimpin daripada ngurusin kasus di Vietnam,”
hehehe…. bagus..bagus….
December 5th, 2008 at 8:12 pm
adi
busyet, blm ada setahun tak nampak kau udah duduk sebelah pak habibi yang mantan presiden. Sebulan lagi nanti mungkin sebelahnya itu pak SBY, atau mungkin kau yang jadi sebelahnya itu.
monk-omonk tu pak habibi beneran ato pak habudi republic mimpi?
December 9th, 2008 at 8:11 am
shei
@ aR_eRos: Trims, nanti saia pikirkan, Hoho… ok, segera ke TKP

@ angki: Mas.. Mas…. wong tuwo, sudah ndak narsis lagi..
@ yopi: Hm..guess….
@ gemBel™: Tumben ngomong ngunu
@ suwan: Thx..
@ Edi Psw: Sepakat, Pak!!
@ ekkei: Setuju!!
@ adi: Amin….
ndak lah, Eyang aseli tuh!!
December 16th, 2008 at 7:50 am
Hashiriya
Teknokrat jempolan…..
Kesayangan Orba…
akhirnya,
Dibenci Orba…..
Serba salah…
Habibi termasuk salah satu tokoh yang sebenarnya ingin terus berkarya untuk Indonesia, tp sayang beliau di cuekin… Pantes beliau milih di Jerman dg Fee yg jauh lbh gede…org indonesia msh belum bs bedain mata uang asing ma Rp.
N250 Gatot kaca….
Emg Habibi…
HAnya BIsa BIkin.
December 22nd, 2008 at 10:36 am
shei
@Hashiriya: Haha, bisa ajaaa….yang penting bisa biki dulu laaaah, baru dipikir nanti biayanya brapa
December 23rd, 2008 at 4:45 pm
4ndika
keren :lol:
December 24th, 2008 at 10:23 am
master mister mahmudin
Kira-kira HMP ma BTH dah maafin Habibi blm yahhhh?
December 28th, 2008 at 7:58 am
kacrut
humm.. apaan yah??
keberatan kayaknya tulisannya.. hahahhahaha
trus aku setuju sama angki.. hihihi…
pak habibinya gak ngadep kamera..
ajarin narsis gih.. hahahhahaha
January 2nd, 2009 at 3:26 pm